Pertanian Organik ;

Sebuah Perlawanan Revolusi Hijau

 

Oleh: Siti Zunariyah

 

Drama perampasan

Sekitar 70% keragaman hayati liar di dunia tercatat terkonsentrasi di daerah tropis [1]. Kondisi inilah yang menarik perhatian orang-orang untuk datang dan ingin ikut menikmati kekayaan sumberdaya hayati tersebut. Sehingga pada abad ke 15 Eropa berhasil menundukkan masyarakat pribumi  sekaligus merampas tanah dan sumberdaya alam yang dimilikinya. Upaya untuk menguasai sumberdaya alam ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri di negara asalnya atau industri yang dibangun di negara jajahan. Sehingga yang dilakukan adalah dengan menggenjot kapasitas produksi sumberdaya alam tersebut. Seiring dengan hal itu pula, upaya ini seiring dengan dibangunnya jalan raya, rel kereta api yang dibangun untuk mempermudah pengangkutan sumberdaya alam menuju ke negara mereka.

Jika bertolak dari perspektif negara sedang berkembang, bahwa tiap negara berdaulat atas sumberdaya hayati yang dimilikinya, maka sejak abad ini pula proses perampasan atas sumberdaya alam kepada negara-negara tropis dalam hal ini adalah negara sedang berkembang sudah terjadi. Eropa ataupun Amerika mengangkut komoditas tropis dengan cara mengeksploitasi tenaga pribumi untuk bekerja memacu produktivitas barang agar pasokan bahan baku industri tidak terhambat. Selanjutnya, di negara maju ini komoditas tropis ini akan diolah dan dikemas untuk menjadi barang pabrik atau industri yang siap untuk mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Dalam perkembangannya, kebutuhan untuk memasok bahan baku industri negara-negara maju telah menggeser pola pertanian yang telah berlaku umum di masyarakat.  Sebelumnya, pola pertanian yang dilakukan oleh masyarakat cenderung bersifat subsisten, artinya bahwa apa yang mereka tanam akan kembali dikonsumsi untuk keperluan hidup mereka tanpa ada upaya untuk menumpuk hasil pertanian di luar kebutuhan hidup mereka. Dikenalkannya system pertanian yang menekankan pada produktivitas sehingga petani harus dapat memproduksi hasil komoditas mereka dalam jumlah yang banyak.

Banyaknya permintaan dari industri mendorong mereka untuk menanam komoditas tersebut secara monokultur. Beberapa sisa pola perkebunan atau pertanian di Indonesia yang ditanam untuk memenuhi keinginan industri adalah kebuh teh, kebun Kopi, tanaman tebu, tembakau dan jenis perkebunan lainnya yang dapat dilihat hingga sekarang. Apa yang ditinggalkan oleh negara penjajah tersebut bukanlah kesejahteraan, namun justru kebodohan dan kemiskinan. Sehingga, apa yang mereka dapat berikan kepada bangsa ini setelah sumberdaya alam kita dirampas ?. Justru negara mereka semakin maju dan kita semakin terhisap dan terbelakang. Lantas dimana letak keadilannya?.Tahukah kita bahwa pola tanam monokultur akan merusak keseimbangan ekosistem yang ada ?

 

Dampak sosial ekologis teknologi pertanian

Revolusi hijau yang marak dicanangkan oleh pemerintah tahun 1970-an demi pertumbuhan ekonomi. Dengan dalih peningkatan kapasitas produksi dan kesejahteraan masyarakat, maka revolusi hijau ini masuk ke pola pengolahan pertanian. Namun atas nama peningkatan produksi yang efisien, maka pola pertanian yang dikembangkan melupakan factor sosial ekologis yang diakibatkannya. Hal ini ditandai dengan adanya penyeragaman pola pertanian dengan menggunakan teknologi hasil rekayasa yang dikembangkan oleh negara-negara maju. Petani ditempatkan pada posisi tidak dapat memilih. Artinya petani terpaksa harus membeli semua kebutuhan pertanian agar produktivitasnya dapat terjaga. Petani tidak lagi menggunakan bibit local, pupuk alami, namun semua kebutuhan akan pertanian sudah dicukupi oleh dunia industri. Akibatnya, muncul ketergantungan baru pada petani atas produk bahan baku pertanian.

Ketergantungan pada teknologi pada proyek revolusi hijau ini, ternyata tidak menguntungkan bagi petani-petani kecil. Kendati produktivitas meningkat namun, biaya yang harus mereka keluarkan untuk pengolahan jauh lebih besar, sehingga jika dikalkulasi maka tidak mendatangkan sejumlah keuntungan. Keuntungan hanya berpihak pada pemilik tanah yang luas, bukan petani kecil. Sehingga makin lebar pula jarak sosial dan ekonomi  diantara masyarakat.

Tidak sekedar itu, dampak sosial yang terasa adalah proses marginalisasi perempuan dalam proses pengolahan pertanian. Revolusi hijau ternyata justru mengintrodusir peran perempuan, dan digantikan oleh mesin. Sehingga perempuan kembali ditempatkan pada wilayah public, akibatnya perempuan tidak dapat menyokong perekonomian keluarga.

Revolusi hijau pada saat tertentu akan berdampak pada persoalan ekologis. Beberapa kejadian bencana akibat serangan hama, berkurangnya unsure hara tanah, serta dampak ekologis lainnya ternyata menimpa dunia pertanian. Tak kurang, sejumlah spesies bibit padi juga lenyap karena tergantikan oleh bibit hasil rekayasa genetic juga luput dari perkiraan.

Beberapa dampak tersebut  di atas tidak pernah masuk dalam perhitungan pada actor pembangunan yang membawa proyek revolusi hijau. Logika linier yang dimainkan adalah pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan melalui proyek revolusi hijau yang mampu melakukan produksi pertanian secara efisien dan lebih produktif. Peningkatan produksi pertanian ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun apakah memang demikian ?

Rasionalitas instrumental atas teknologi pertanian

Problematika rasionalitas yang tersembunyi di belakang perkembangan masyarakat modern-industrial dan IPTEK yang telah menjadi focus kritik para ilmuwan sosial yang menganut epistimologi histories-hermeneutis. Sentral didalamnya adalah analisa kritis dari Max Weber, George Lukacs, dan para penganut aliran Frankfurt mulai dari Horkheimer, Theodore W. Adorno, Herbert Marcuse dan Jurgen Habermas. Semuanya menaruh perhatian pada problematika rasionalisasi di dalam masyarakat modern industrial-yang berlawanan dengan dan menyimpang dari misi pencerahan  (enlightment) yang dibawa sejak awal kelahirannya pada era Renaissans. Dalam perkembangan lebih lanjut ternyata telah berubah menjadi suatu bentuk dominasi.

Di dalam konsep Max Weber, rasionalisasi yang dimaksud, secara sangat umum dipahami sebagai kecenderungan di dalam proses industrialisasi dimana pembagian kerja dan hubungan-hubungan sosial menundukkan atau mensubordinasikan dirinya pada pasar di dalam upaya mencapai maksimalisasi keuntungan. Ia merupakan salah satu dari dua bentuk rasionalitas yang oleh Lukacs lebih dilihat sebagai perluasan dari rasionalitas kapitalis daripada sebagai perkembangan inheren dari suatu proses rasionalisasi yang lebih luas di dalam masyarakat barat. Weber menyebutnya sebagai rasionalitas formal atau rasionalitas instrumental, yang dia bedakan dari rasionalitas substantive atau rasionalitas nilai.

Yang membedakan keduanya adalah orientasi yang dihasilkan masing-masing di dalam pengungkapan tindakan sosial manusia. Jikalau rasionalitas formal atau rasionalitas instrumental mengorientasikan tindakan manusia pada aturan-aturan yang dirumuskan secara eksplisit dan menamin pengendalian yang didasarkan pada perhitungan-perhitungan rasional, maka rasionalitas subtantif  sebaliknya berurusan dengan pilihan nilai-nilai absolute, kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan final dari tindakan manusia.

Keprihatinannya terhadap rasionalisasi bersumber di dalam argumennya bahwa di dalam masyarakat modern-industrial pilihan nilai semakin bergulir dari kekuasaan rasonalitas subtantif menuju kekuasaan rasionalitas formal. Padahal rasionalitas ini justru menekankan cara-cara untuk mencapai tujuan dan bukan pada tujuan-tujuan tindakan manusia itu sendiri. Bagi Weber problematika rasionalitas yang demikian muncul oleh karena masyarakat modern-industrial mengabaikan setiap pertimbangan tentang tujuan-tujuan dan nilai-nilai final tindakan sosial manusia, dan sebaliknya membentuk dan mengarahkan tindakan-tindakan mereka pada dan di dalam hubungannya dengan fungsi-fungsi dan peran-peran yang bersifat impersonal. Sebagai akibatnya, hanya keharusan-keharusan organisasi birokratis yang pada kahirnya memiliki tempat strategis di dalam masyarakat modern industrial, sementara individu lebih sekedar gigi-gigi roda yang sederhana dari sebuah mesin besar masyarakat.

Reaksi kritis terhadap kehadiran teknologi pertanian merupakan ciri dari kehadiran masyarakat modern. Sepanjang sejarah yang pernah kita kenal, umat manusia terus-menerus diperingatkan bahwa ia telah menciptkan keuatan-kekuatan yang tidak mampu ia kendalikan, bahwa mesin yang ia ciptakan akan mengambil alih control akan planet bumi dan menuntut penuncukan total manusia. Dan menurut Dicson, memberikan kepercayaan yang terlalu besar kepada ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berarti membuat perjanjian dengan setan [2] .

Banyak keuntungan sosial yang dibawa oleh teknologi, ternyata harus dibayar dengan harga sangta mahal berupa masalah-masalah sosial yang ditimbulkannya. Mulai dari degradasi lingkungan, ketergantungan pada negara-negara maju, bahkan sampai pada manipulasi antar sesama manusia.  Pada saat yang bersamaan, keahlian teknologi manusia sejauh ini gagal memberikan pemecahan atas banyaknya masalah dunia, terutama kemiskinan, kelaparan, ketidak adilan bahkan konflik.

 

Dominasi kepentingan dalam penguasaan teknologi

Menurut Dickson sebagaimana dikutip oleh Nasikun, bahwa perkembangan teknologi yang semula bersifat emansipatoris dan membebaskan manusia dari kekuasaan alam fisik, namun selanjutnya ternyata menghasilkan berbagai dampak sosial yang menghambat perkembangan kemanusiaan. Hal ini terjadi oleh karena teknologi memainkan atau memiliki peran politis yang sangat penting di dalam kehidupan masyarakat, suatu peranan yang sangat erat berkaitan dengan distribusi kekuasaan dan penggunaan pengendalian sosial. Peran tersebut terungkap baik pada tingkat material maupun pada tingkat ideologis.

Pada tingkat material, teknologi melestarikan dan mengukuhkan kepentingan kelompok sosial dominan di dalam masyarakat tempat ia diciptakan dan dikembangkan. Pada saat yang bersamaan, ia juga bertindak pada itngkat simbolik untuk mendukung dan mempropagandakan ideology masyarakat yang melegitimasikan eksistensi dan peran yang demikian [3].

 

 

 

Pertanian organiK ;  opposition against system

Dominasi atas  pengetahuan dan teknologi pertanian ternyata melahirkan penindasan yang dialami oleh petani di negara dunia ketiga. Petani sulit untuk membuat pilihan-pilihan akan teknologi yang tidak menimbulkan banyak dampak, baik dampak sosial, ekonomi ataupun ekologi. Hal ini tidak terlepas dari rasio manusia yang hendak mencapai produktivitas, akan tetapi ternyata menghasilkan apa yang disebut oleh Weber disenchantment of the world. Rasio yang hendak menguasai apapun, yang akhirnya manusia merekayasa dunia melalui teknologi .

Logika efisiensi yang menjadi jargon dari revolusi hijau ini ternyata pada akhirnya melahirkan Iron Cage dimana petani tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti prosedur dan birokrasi proyek revolusi hijau. Kondisi yang terjebak pada penggunaan teknologi inilah yang menghasilkan bentuk penindasan baru pada mereka. Hal inilah yang melanggengkan proses kapitalisme dunia melalui eksploitasi sebagai kepanjangan tangan darinya.

Dalam perkembangan media,  kondisi keterjebakan ini tidak pernah disadari oleh petani, bahkan justru semakin mendewakan teknologi. Dan proses ini difasilitasi oleh media massa yang memberikan peluang untuk melakukan hal serupa atau duplikasi kepada manusia lain. Akibatnya proses eksploitasi semakin meluas pada petani dan kerusakan serta dampak sosial yang diakibatkannya menjadi tidak terkendalikan.

Hilangnya unsure hara tanah tentu bencana bagi petani di masa depan. Bagaimanapun tanah adalah asset penting bagi petani untuk melangsungkan produksi pertanian. Jikalau tanah mengalami degradasi maka petani akan terancam keberadaannya, dan semakin bergantunglah hidup mereka kepada produk dunia industri dan semakin langgeng pula proses eksploitasi pada mereka.

Kesadaran ini melahirkan pemikiran kritis dari kalangan petani untuk back to nature dan tidak mempergunakan teknologi rekayasa dari industri negara maju. Bentuk perlawanan petani ini oleh Habermas disebut dengan opposition against system , agar terbebas dari sangkar besi revolusi hijau yang berdampak sosial ekologis yang tidak sedikit. Proses perlawanan petani terhadap keberadaan revolusi hijau disebut pula jenis pertanian organic.

Pilihan untuk melakukan program pertanian organic merupakan pilihan di luar system teknologi industri pertanian oleh negara-negara maju. Sistem pertanian ini mempergunakan bibit local pupuk alami, tidak menggunakan pestisida, tidak menggunakan teknologi untuk membajak, memanen . Apa yang dilakukan dalam system pertanian ini kembali seperti masa lampau sebelum diperkenalkannya revolusi hijau kepada masyarakat. Sehingga degradasi lingkungan dapat pulih kembali, dan ketergantungan masyarakat akan teknologi dapat dikurangi dan masyarakat kembali menemukan independensinya atas diri dan lingkungannya.


[1] Dikutip dari Pembajakan Sumberdaya hayati oleh Pustaka Latin tahun 1999

[2] Dikutip dari Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1995

[3] ibid hal xvii